Pekerjaan Rumah, memberatkan, atau meringankan siswa

Bismillahirrahmanirrahim. Berikut ini merupakan tulisan yang 100% merupakan sudut pandang penulis, penulis hanya ingin mengeluarkan semua perasaan yang sangat mengganjal terkait pekerjaan rumah ini, karena penulis merupakan siswa suatu Sekolah Menengah Kejuruan di Jakarta

ILUSTRASI

Pekerjaan Rumah (PR)

Pekerjaan Rumah, memang sebenarnya mempunyai tujuan yang baik, yaitu agar siswa bisa paham terkait materi yang diajari di sekolah, saya tahu itu. Tetapi, Pekerjaan Rumah itu diibaratkan pisau dan dia mempunyai 2 sisi yang tajam. Akibatnya, seolah olah PR itu membuat siswa jadi tertekan, sama seperti yang saya rasakan saat ini.

Saat ini memang banyak guru yang memberikan Pekerjaan Rumah dengan kuantitas berlebihan, entah soal, ataupun catatan yang banyak. Misalkan standar Pekerjaan Rumah itu hanya 10 soal dan soalnya tidak terlalu rumit, tetapi guru bisa memberikan lebih dari itu loh! Frekuensinya bisa dibilang sangat sering.

Menurut saya sendiri sih, PR boleh saja, tetapi ya masih di batas wajar, misalkan guru tersebut menanyakan sebelum memberikan PR, “nak, ada PR tidak dari guru lain?”. Kenapa? Karena hampir seluruh pelajaran yang diajarkan di hari tersebut semua diberikan PR, lalu, pertemuan berikutnya sangatlah dekat.

Di kondisi tersebut, para siswa (termasuk penulis) jadi lebih berpikir bahwa “Kok PR banyak banget sih!, padahal pulang sudah menjelang petang” dan penulis sendiri pun, jadi lebih mementingkan istirahat terlebih dahulu. Apalagi misalkan ada guru yang memberikan konsep belajar seperti militer, misalkan tak mengerjakan tugas, lari keliling lapangan.

Pendapat Penulis

Menurut penulis sendiri, untuk meningkatkan minat belajar itu, para siswa harus menikmati pelajaran tersebut. Tetapi di sini, ya benar, negeri kita yang sangat amat kita cintai, yaitu Indonesia seluruh siswa seperti dipaksa harus bisa semua pelajaran yang diajari di sekolah.

Mungkin memang “tak semua sekolah seperti itu” karena dari kabar teman penulis, mereka (siswa SMA) tidak ada lagi yang namanya ulangan tengah semester (UTS) kalau bahasa dulu, tetapi sekarang PTS (Penilaian Akhir Semester).

Mari pikir, sekolah dari jam 06:30 hingga 15:00 disitu pelajaran-nya padat dan istirahat pertama disekolah penulis hanya 15 menit waktu tersebut sangat tidak layak menurut penulis, karena makanpun di kantin sekalian bersosialisasi tak cukup waktunya.

Bandingkan dengan para pekerja mari kita berhitung dengan matematika sederhana.

Para pekerja biasanya harus bekerja selama 8 jam perhari, dan siswa bila dihitung dari jam 06:30 ~ 15:00 sudah selama 8 jam 30 menit pasti nanti banyak yang berkomentar “ah, 30 menit, apa rasanya sih!”.

Mungkin jika sepemikiran dengan kata yang penulis tulis diatas, (maaf) anda bisa dikatakan manusia robot!. Karena porsi waktunya itu berbeda, mereka sudah bisa menemukan pekerjaannya sesuai bidang yang mereka pelajari!.

Sedangkan, kebanyakan siswa yang “masih sekolah” ditanya kedepannya saja masih banyak yang bingung. Kurikulum Indonesia harus dibenahi jika menurut penulis, mengapa? Karena:

  1. Siswa dipaksa untuk bisa segalanya.
    Nyatanya TIDAK! karena pada pekerjaan nanti, hanya 1 yang paling menonjol yang akan digunakan.
  2. Guru merasa bahwa mereka tak bersalah.
    Nyatanya TIDAK! guru harus bisa merasakan kondisi muridnya, sedang tertekan atau tidak, karena bisa berakibat fatal di kemudian hari, misalkan jika sudah stress meningkat, tidak ada yang tidak mungkin akan melakukan yang sangat tak diharapkan, bukan?.
  3. Guru menganggap Pekerjaan Rumah merupakan jalan paling “wahid” (tunggal) agar siswa mengerti.
    Nyatanya TIDAK! masih banyak metode belajar yang bisa dipahami siswa, selain menggunakan Pekerjaan Rumah untuk media-nya, misal seperti permainan.

Jawaban Penulis

Jadi, jawaban penulis? Penulis sangat menolak Pekerjaan Rumah, dikarenakan pulang sekolah saja sudah menjelang petang ~ malam, dan penulis juga sering melihat para siswa ada yang tidur di angkutan umum, karena saking lelahnya.

Penulis berharap, tulisan ini bisa sampai ke Menteri Pendidikan untuk kualitas pendidikan yang lebih baik lagi.

Semua tulisan ini merupakan sudut pandang pribadi penulis, penulis hanya ingin menuangkan seluruh ganjalan yang ada di dalam hati, tetapi tak tahu ingin disampaikan oleh siapa, kapan, dan dimana, dan penulis menganggap blog merupakan media terbaik.

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarokatuh

Jakarta 21 Oktober 2018

Penulis

2 thoughts to “Pekerjaan Rumah, memberatkan, atau meringankan siswa”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *